Konon, nun jauh di seberang samudera, di tanah India yang harum semerbak bunga-bunga kasturi, tersebutlah seorang puteri yang tiada banding keelokannya: elok paras, elok perangai, elok tutur, elok budi. Permata yang bersinar di singgasana emas, cahaya yang menyimbah wajah negeri dari ufuk ke ufuk. Ia adalah Puteri Indera Dunia.
Kononnya lagi, di tanah Swarnadwipa, di tempat pertemuan dua batang sungai besar—Batang Mahat dan Batang Kampar—berdirilah sebuah kerajaan yang termasyhur lagi megah. Negeri itu dulunya subur makmur, dihuni rakyat yang hidup rukun di bawah lindungan alam dan adat. Namun, segalanya berubah tatkala tampuk kuasa jatuh ke tangan seorang raja bernama Raja Panjang Jungu.

Judul Buku:
Legenda Putri Indera Dunia dan Cerita Lainnya
Genre:
Cerita Rakyat / Legenda Nusantara
Penulis:
Derichard H. Putra
Jumlah Halaman:
178 Hal + xvi
Ukuran Buku:
A5 (148×210)
ISBN:
–
Harga:
79.000
Penerbit:
PT. Narawita Swarna Persada
Legenda Putri Indera Dunia dan Cerita Lainnya menghadirkan sang putri bukan sekadar sebagai tokoh legenda, melainkan sebagai simbol kemurnian hati, keteguhan jiwa, dan kecintaan pada tanah kelahiran. Di sela-sela kisahnya, pembaca diajak menyelami aroma laut yang asin, memandang langit senja yang membara, dan mendengar suara ombak yang seolah mengulang doa-doa lama.
Namun, buku ini tak berhenti pada satu kisah. Ia merangkai beragam cerita rakyat Melayu Riau yang sarat makna.
Setiap kisah diperkaya dengan pantun, pepatah petitih, dan bahasa yang mengalir indah seperti syair lama. Membacanya bukan hanya mengundang kenangan, tetapi juga menyalakan kembali denyut nadi budaya Melayu—warisan lisan yang nyaris terlupakan.
Selain Putri Indera Dunia, pembaca akan berjumpa dengan Datuk Jimbam dan Putih Jarum Pemilin, Gadih Kainam dan Bujang Mat Saleh, Putri Hijau dan Panglima Penjarang, Dayang Daipah dan Rajo Bujang, Putri Bunga Setangkai & Tujuh Putri, dan cerita lainnya. Masing-masing menghadirkan aroma kampung halaman: hutan yang rimbun, sungai yang berliku, rantau yang sunyi, dan adat yang sarat makna. Kisah-kisah ini tak semata menonjolkan kecantikan atau kemegahan istana, melainkan menyimpan keberanian yang membara, kesetiaan yang diuji, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Membaca buku ini bagaikan duduk di serambi rumah kayu, sambil mendengar atuk dan nenek bercerita di malam bulan purnama. Kata-katanya lembut, dan nilai-nilai yang terpatri di setiap halaman mengalir halus ke relung hati.
Pada akhirnya, ketika halaman terakhir ditutup, yang tersisa hanya rasa hangat di dada. Ia seperti kita baru pulang dari sebuah perjalanan panjang, membawa pulang cerita-cerita yang tak lekang dimakan waktu.









