Legenda Kain Cindai bertolak dari panggung sunyi Si Jobang—seni tutur Melayu yang hanya mengandalkan satu suara, satu tubuh, dan ingatan panjang adat. Dalam pertunjukan ini, seorang penutur menjelma banyak tokoh, seperti bayang wayang yang hidup melalui kata. Dari sanalah kisah Datuk Perpatih Nan Sebatang diturunkan, sebagai tambo lisan yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat Talang Mamak.
Cerita ini mengisahkan perjalanan Datuk Perpatih meninggalkan negeri asalnya, menghiliri Sungai Keruh dengan rakit yang dijadikan rumah, singgah dari Pangkal Kasai hingga Kuala Kilan.

Judul Buku:
Legenda Kain Cindai
Genre:
Cerita Rakyat / Legenda Nusantara
Penulis:
Derichard H. Putra
Jumlah Halaman:
68 Hal + xiv
Ukuran Buku:
A5 (148×210)
ISBN:
–
Harga:
–
Penerbit:
PT. Narawita Swarna Persada
Ia membuka negeri, dan meninggalkan tanda persahabatan berupa lembing canggah. Namun takdirnya berpaut pada dunia kayangan, ketika seorang putri langit ditangkap dengan siasat dan mantra, lalu menjadi istrinya. Dari perjumpaan dua alam itu lahirlah Kain Cindai—kain tenun sakral yang dipercaya masih dijaga oleh keturunannya hingga kini.
Lebih dari sekadar cerita, Legenda Kain Cindai adalah ingatan kolektif: tentang silsilah yang ditulis agar tak hilang, tentang pantang larang, prosesi beras retih, dan cara melipat kain yang hanya diketahui darah pewarisnya.
Sebuah kisah yang merajut manusia, alam, dan yang gaib—dituturkan kembali dari panggung Si Jobang ke halaman buku, agar tambo lama tetap bernapas di zaman kini.









