Di balik kabut legenda yang turun dari masa silam, kita sering menemukan kisah yang sama: tentang seorang anak yang lupa pada budi orang tuanya. Begitulah yang terhimpun dalam buku Legenda Rawang Tengkuluk dan Cerita Lainnya. Buku ini ibarat cermin yang memantulkan wajah-wajah durhaka—anak-anak yang menolak nasihat, melawan kasih sayang, bahkan tega menyingkirkan ibu kandungnya sendiri.
Kisah utama, Legenda Rawang Tengkuluk, bercerita tentang seorang anak yang ditelan bumi di sebuah rawang yang kini dinamakan Rawang Tengkuluk. Keangkuhan dan keras kepalanya berbuah kutukan yang mengubah jalan hidupnya. Kutukan itu bukanlah hukuman, melainkan tanda abadi bahwa kasih sayang orang tua tidak bisa diabaikan tanpa konsekuensi.

Judul Buku:
Legenda Rawang Tengkuluk dan Cerita Lainnya
Genre:
Cerita Rakyat / Legenda Nusantara
Penulis:
Derichard H. Putra
Jumlah Halaman:
188 Hal + xvi
Ukuran Buku:
A5 (148×210)
ISBN:
–
Harga:
79.000
Penerbit:
PT. Narawita Swarna Persada
Cerita lain yang ikut menghuni halaman buku ini juga berpijak pada tema serupa: anak-anak yang tidak mengakui orang tuanya sendiri, yang melupakan orang tua di masa senja, atau yang lebih memilih kesenangan dunia daripada kasih sayang keluarga. Meski setiap kisah berakhir dengan getir, di sanalah letak kekuatannya: pesan moral mengalir deras, menegaskan bahwa durhaka hanya akan menjerumuskan pada penyesalan.
Bahasa dalam buku ini sederhana, mengalir seperti dongeng nenek di beranda rumah saat senja. Pantun dan peribahasa sesekali menghiasi cerita, memberi nuansa Melayu yang hangat.
Legenda Rawang Tengkuluk dan Cerita Lainnya adalah jendela menuju masa lalu—masa ketika cerita rakyat digunakan sebagai penuntun moral, bukan sekadar penghibur. Buku ini layak hadir di rak sekolah dan rumah, agar anak-anak masa kini tidak lupa bahwa di balik kasih seorang ibu tersimpan doa, dan di balik doa ada keberkahan hidup.
Membaca buku ini seperti mendengar suara lama yang berbisik: jangan sekali-kali engkau durhaka, karena luka di hati orang tua akan kembali padamu sebagai kutukan takdir.









